Aksi Damai Peduli Konflik Lamsel

HMI Komsospol Unila dan gabungan komunitas se Bandar Lampung di Tugu Adipura Bandar Lampung.

Basic Training HMI Komsospol Unila

Suasana Basic Training di gedung KNPI Lampung.

Sekretariat HMI Komsospol Unila

Jl. Danau Tondano No 35 Kedaton Bandar Lampung.

Alumni HMI Komsospol Unila

Pengkaderan dari masa ke masa untuk umat dan bangsa.

Senior dan Alumni HMI Komsospol Unila

Semangat membimbing dan berbagi. Yakin Usaha Sampai !

Prolog. HMI Komisariat Sosial Politik Universitas Lampung.

Menghadirkan sebuah Blog merupakan langkah HMI go Public. Dimana semangat berorganisasi dan menyampaikan kepada khalayak tentang aktifitas dan perjuangan selama ber-HMI dipandang sangat perlu, dengan harapan masyarakat dapat mengetahui eksistensi HMI. Namun diluar dari pada itu, menghadirkan blog semacam ini merupakan wahana belajar untuk kader agar dapat berkreatifitas dalam mengelola sebuah media, sebagai bentuk sinergitas HMI dengan zaman. Kepada setiap pembaca, dengan segala hormat kami sangat menyadari akan kekurangan maupun kelebihan kami kami dalam menyajikan blog ini. Untuk itu kami sangat mengaharapkan sekali kritik dan saran, sebagai upaya untuk mencapai kesempurnaan, meski untuk mencapai titik kesempurnaan sangatlah sulit dan subyektif sifatnya. Akhirnya, semoga Blog Komisariat Sosial dan Politik Unila ini dapat bermanfaat dan menjadi stimulus pembaca dalam berkreatifitas dan menjadi warisan turun menurun untuk dikelola oleh generasi selanjutnya.

Yakin Usaha Sampai

Wednesday, December 5, 2012

Kaderisasi Parpol Harus Berkualitas


Oleh Syam Yoga Orlando 

Maraknya dugaan korupsi yang dilakukan anggota DPR tidak terlepas dari jalan pintas yang dilakukan partai politik dalam menjaring kader. Sikap masyarakat yang semakin apatis terhadap parpol, persaingan yang kian ketat, membuat penjaringan kader berdasarkan popularitas semata, tanpa melihat kualitasnya. Untuk memperbaikinya, parpol harus turun mesin, demikian pendapat Wakil Ketua MPR Hajriyanto Y Thohari terkait maraknya pelaku tindak korupsi berasal dari kalangan partai politik. Semua ini tidak terlepas dari kaderisasi. Parpol, akhirnya mencari jalan pintas dengan memilih kader-kader yang populer, tetapi kinerja untuk legislasinya masih kurang. Ini dapat terlihat dari banyaknya UU yang digugat ke MK (Mahkamah Konstitusi)
Untuk itu, parpol di Indonesia harus overhoul (turun mesin). Walaupun, peran dari Partai Politik saat ini sangat strategis, tetapi kemudian proses komunikasi politik, legislasi, dan lain-lain tidak berjalan dengan semestinya. Kondisi parpol yang masih euforia dengan kewenangan strategisnya membuaikan esesnsi dan fungsi dari parpol itu sendiri. Pada akhirnya Parpol belum menyiapkan kadernya, masih senang dengan perannya yang strategis. Kinerja seperti itu, ditambah dengan desakan untuk mengembalikan modal kampanye, membuat kader parpol di DPR melakukan tindak korupsi. 


Pendapat lain, disampaikan Anggota Komisi IV dari PPP, Saifullah Tamliha, saat ini banyak anggota DPR yang juga seorang pengusaha. Sehingga, tidak dapat dipungkiri, paradigma untuk 'balik modal' kuat tertanam. Belum pernah ada anggota DPR yang seorang pengusaha benar-benar bekerja tanpa memikirkan uang kampanye yang harus kembali. Oleh karena itu, rekrutmen anggota DPR harus benar-benar diseleksi dengan ketat oleh pimpinan parpol.

Sistem pemilu juga harus dievaluasi. Sejauh mana dapat menimbulkan kapitalisme, sehingga berimbas kepada kaderisasi parpol yang buruk, kinerja parpol menjadi jelek, dan jeratan korupsi, sehingga menimbulkan persepsi negatif di masyarakat. Apalagi, kini tingkat kepercayaan terhadap DPR, tinggal hanya 20%. Ini merupakan tingkat kepercayaan terhadap DPR terendah di seluruh dunia. Sehingga perlu ada perbaikan secara menyeluruh dalam sistem parpol di Indonesia. Salah satunya adalah dengan kaderisasi jangka panjang.

Tuesday, December 4, 2012

REPUBLIK BBM DAN INSENTIF POLITIK


Arizka Warganegara
(Dosen FISIP Universitas Lampung)

Terdapat dua hal yang menarik untuk diikuti menilai kiprah pasangan SBY-JK (Presiden dan Wapres RI), dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya dua langkah politik yang menurut saya layak untuk dicermati apakah hal ini akan menjadi sebuah insentif politik seperti SBY katakan kepada media beberapa hari yang lalu atau mungkin hal ini  adalah sebuah langkah riil politik yang merupakan wujud dari keseriusan SBY-JK untuk menjalankan roda pemerintahan bagi pencapaian kesejahteraan rakyat.

Dua hal yang saya maksudkan disini adalah, Pertama, mengenai keinginan pemerintah merespon positif turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan juga akan menurunkan harga BBM dipasaaran, sebuah langkah yang selama ini tidak pernah dilakukan oleh rezim yang berkuasa di Indonesia selama ini. Kedua, adalah mengenai ditetapkannya Aulia Pohan, sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Beberapa media baik lokal ataupun nasional beberapa hari ini menurunkan headline mengenai kembali turunnya harga BBM, selaras dengan hal tersebut ternyata ratting Pak SBY kembali naik sebagai kandidat kuat Capres 2009, dua lembaga survey baru-baru ini, Reform Institute dan Cirus Surveyor Group kembali menempatkan sosok SBY sebagai capres yang paling electable. Merujuk survey Cirus Surveyors Group SBY masih teratas dengan perolehan 36,99 persen, Megawati 16,2%, Sri Sultan 6,47%, Prabowo 5,2%, Wiranto 4%, dan Sutiyoso di posisi terbawah dengan perolehan 0,35% sebagai Capres 2009.

Reform Institute juga misalkan menempatkan SBY sebagai Capres paling electable, dengan angka  SBY 42,18%, Megawati Soekarnoputri 16,67%, Sri Sultan HB X 10,548%, Prabowo Subianto  7,88%, Wiranto 4,33%, Hidayat Nurwahid 2,06%, Amien Rais 2,06%, Jusuf Kalla 1,49%, Akbar Tandjung 0,87%, Abdurrahman Wahid 0,83% Sutiyoso 0,17%, Surya Paloh 0,17%, Lain-lain 10,81%.

Walaupun survey kedua lembaga ini memempatkan profil SBY sebagai yang terdepan tapi ini harus diingat survey ini sifatnya sangat dibatasi dengan waktu, kemungkinan pergerakan atas elektabilitas dan popularitas seseorang kandidat dapat saja bergerak naik dan turun. Survey akan sangat valid ketika dilakukan minimal sebulan menjelang pilpres dan pada bulan maret, april, mei dan juni adalah posisi genting buat pemerintahan SBY-JK, ditambah lagi apalagi jika prediksi para pengamat ekonomi yang menyatakan gelombang PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) akibat krisis finansial di Amerika Serikat baru akan terjadi pada bulan-bulan tersebut.

Dalam beberapa hal, hasil polling terhadap elektabilitas dan popularitas seseorang kandidat incumbent sangat dipengaruhi kinerja ekonomi yang bersentuhan langsung dengan kesejahteraan rakyat diakhir masa jabatan. Dan jika gelombang PHK pada medio bulan-bulan tersebut benar terjadi maka hal ini akan menjadi semacam “Tsunami” Politik bagi karir politik SBY-JK.

Hikmah dari Parodi Republik BBM

Pada bagian lain sebagai sebuah kontemplasi parodi politik, saya teringat dengan sebuah acara yang dahulu sempat ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta setiap senin malam, acara tersebut berjudul ”Republik BBM” , acara brilian yang mampu disajikan dengan cerdas oleh Efendi Ghazali, Almarhum Taufik Savalas, Kelik dkk-nya. Dalam pandangan Saya sesungguhnya acara ini mampu untuk memberikan kontemplasi kontemporer terhadap keadaan sosial politik Indonesia kontemporer.

Terdapat kesamaan antara antrian, naik-turun harga BBM yang kita alami sekarang dengan acara republik BBM tersebut setidaknya dari pilihan kata yang digunakan yaitu BBM. Akan tetapi jika BBM dalam konteks kita sekarang adalah Bahan Bakar Minyak yang kita sudah sangat mengetahui fungsinya untuk menggerakkan mesin seperti mobil, motor dan lain-lainnya.

Dalam terminologi almarhum Taufik Savalas dan Kelik sebagai Presiden dan Wakil Presiden kala itu, BBM bermakna ”Benar-Benar Mabok”. Ada dimensi filosofis kenapa term BBM yang digunakan, andai Saya boleh mengira-ngira mungkin saja yang dimaksud BBM oleh almarhum Taufik dan Kelik adalah sebuah sindiran bagi negara tetangganya yang sudah sepuluh tahun menjalankan reformasi bukannya tambah segar akan tetapi tambah mabok.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah benar negara tetangganya Republik BBM sudah benar-benar mabok? Banyak aspek yang menjadi bisa menjadi bahan renungan terhadap hal tersebut dalam konteks sosial-ekonomi misalkan mulai dari naiknya-turunya BBM, Kerusuhan Rasial, kasus Gizi Buruk sampai dengan busung lapar yang melanda negara tetangga Republik BBM tersebut.

Dalam konteks politik kelanjutan demokratisasi di Indonesia setidaknya menimbulkan sebuah pesimisme bahkan sebagian besar pengamat dengan berani mengatakan bahwa transisi demokrasi ini bukannya akan berakhir dengan demokrasi yang maju akan tetapi berakhir model-model elektokrasi (sebuah paham pemilihan umum-isme), sebagai bukti misalnya setiap lima tahun sekali pesta-pesta pemilihan umum baik untuk pemilihan anggota legislatif pusat, propinsi, kab/kota, pemilihan presiden sampai dengan bupati dan walikota selalu diwarnai dengan hal-hal yang tidak mendidik. Sebagai contoh terbaru misalkan bagaimana kerusuhan yang disebabkan oleh ketidakpuasan atas hasil Pilkada di Tuban dan beberapa daerah lain seperi Maluku, Sulsel dan Sulbar mewarnai hari-hari kelam transisi demokrasi di Indonesia.

Pertanyaan diatas seolah-olah terjawab dalam sebuah diskusi mengeritisi sewindu reformasi yang digagas oleh harian kompas dengan judul menggagas Visi Indonesia 2030, dua tahun lalu, medio tahun 2006. Diskusi terbatas ini cukuplah menjadikan sebuah kontemplasi nalar yang baik. Dalam diskusi tersebut, mantan ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Ma’arif mengatakan bahwa kita memerlukan strong leadership yang berani mengambil tindakan dengan cepat dan tegas.

Penyataan Buya tersebut seharusnya dapat menjadi otokritik yang sehat terhadap pemerintahan SBY-JK, bahkan dengan kelakarnya Buya Syafii mengatakan bahwa bukan saja sipil yang lemah namun militer-pun ada juga yang lemah. Buya Syafii mungkin tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa SBY adalah tipikal militer yang lemah namun kenyataan kemudian mendukung bahwa kita sekarang sangat memerlukan strong leadership itu tadi.

Saya-pun kemudian kembali lagi teringat dengan parodi Republik BBM, andai saja sang presiden kita setenang Presiden Republik BBM takkala menghadapi persoalan, niscaya masalah-masalah di negeri ini akan dengan mudah terselesaikan, ketenangan Sang Presiden Republik BBM takkala menghadapi persoalan mungkin bisa Pak SBY tiru, mudah-mudahan?  

Pilgub Tidak 2013

BANDARLAMPUNG – Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung tidak bisa dilaksanakan pada 2013 terjawab. Kepastian ini terungkap dalam rapat penyelesaian waktu pelaksanaan pilgub yang digelar di Ballroom Hotel Sheraton, Bandarlampung, kemarin.
Selain memastikan pilgub tidak digelar pada 2013, hasil rapat lainnya yakni KPU dan Pemprov Lampung sepakat berdamai serta mengakhiri polemik terkait jadwal pilgub.
Poin-poin itu tertuang dalam berita acara yang ditandatangani Dirjen Kesbangpol Kemendagri Tanribali Lamo, Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P., Ketua KPU Pusat Husni Kamil Manik, anggota Bawaslu RI Daniel Zuchron, Ketua DPRD Lampung Marwan Cik Asan, dan Ketua KPU Lampung Nanang Trenggono. Kemudian Ketua Bawaslu Lampung Nazarudin dan Ketua Komisi I DPRD Lampung Ismet Roni. Rapat itu sendiri dipimpin yang disepakati semua pemangku kepentingan. Rapat dipimpin Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri Djohermansyah Djohan.
’’Antara kpu dan Pemprov Lampung ada perdamaian, rekonsiliasi. Kalau dulu ada hal-hal yang tidak berjalan harmonis dan serasi, mudah-mudahan dari hasil pertemuan ini, pemprov dan kpu bisa bekerja sama serta membangun sinergisitas dalam penyelenggaraan pilgub,’’ kata Djohermansyah dalam konferensi pers usai rapat yang dimediasi Kemendagri ini.
Ia melanjutkan, kesepakatan penyelenggaraan pilgub yang tidak dapat dilaksanakan pada 2013 ini memiliki banyak alasan.  ’’Tak dicantumkan (dalam berita acara) karena perspektifnya beda-beda antara  alasan gubernur, kpu Pusat, kpu Lampung, dan dprd. Ada juga pendapat-pendapat dari para pakar,’’ ujarnya.
Djohermansyah berharap ada langkah lanjutan dari hasil pertemuan ini. Kemendagri akan terus memediasi dan memfasilitasi lanjutan dari islah. Ia juga menegaskan bahwa belum ada spekulasi-spekulasi kapan waktu penyelenggaraan Pilgub Lampung.
Sementara Sjachroedin Z.P. menegaskan, salah satu alasan tidak ada pilgub pada 2013 adalah karena pemprov tidak menganggarkannya pada APBD 2013. Juga tidak ada alasan krusial untuk menggelar pilgub tahun depan serta berdasarkan pertimbangan manfaat dan mudarat pelaksanaan pilgub pada 2013.
’’Kalau Pilgub 2013, saya bisa bermain politik. Kalau digelar pada 2014 pun tidak ada larangan, 2015 juga belum tahu,’’ ungkap Oedin, sapaan akrab Sjachroedin Z.P.
Ketua KPU Lampung Nanang Trenggono menjelaskan, yang disampaikan Kemendagri adalah hasil rapat. Yang perlu digarisbawahi, kata dia, kpu sudah melaksanakan tugasnya dalam merencanakan tahapan pilgub dan mengusulkan anggaran pilgub kepada pemprov. Setelah rapat ini, Kemendagri akan terus berkomunikasi intensif dengan KPU Pusat.  ’’Kami tunggu sebagai pelaksana di daerah. Yang penting sekarang ini islah. Islah itu bahasa positif,’’ ujar Nanang.
Sementara sosiolog Unila Dr. Maruli menegaskan, kepastian Pilgub Lampung tidak pada 2013, yang paling penting adalah periodisasi KPU yang habis pada 24 September 2013.
Menurutnya, pergantian KPU harus segera disikapi sebagai upaya mencegah masalah baru yakni cacat hukumnya hasil produk Pilgub Lampung. ’’Jadi jangan sampai ada produk hukum hasil pilgub yang diselenggarakan KPU sekarang ini cacat hukum,’’ paparnya kemarin.
Menurut Maruli, dia menganalogikan jangan sampai pilgub tidak legitimate secara hukum akibat KPU-nya bermasalah seperti diungkapkan gubernur. ’’Jadi pilgub Lampung harus prosedural dari segi penyelenggara. Jangan seperti menjemur baju kotor, kering tapi tidak bersih,’’ ungkapnya. (dna/gus/p6/c2/ary)

Hanya Ikhtiar Politik

Pengamat politik dari FISIP Universitas Lampung Arizka Warganegara, S.I.P., M.A. menilai, jika pemilihan gubernur (pilgub) diselenggarakan pada 2015, otomatis akan menggunakan uu Pilkada yang baru. Besar kemungkinan, jika merujuk draf rancangan undang-undang, mekanisme pilgub akan dilakukan oleh DPRD.
 ’’Nah, jika konstelasinya seperti itu, calon-calon yang punya elektabilitas tinggi dengan metode pilkada langsung akan dirugikan. Tapi, kesepakatan rapat koordinasi ini kan baru sekadar ikhtiar politik lembaga-lembaga itu, belum merupakan keputusan formal,’’ kata Arizka kepada Radar Lampung kemarin.
Terkait bakal calon (balon) gubernur yang kini sudah gencar menyosialisasikan dirinya untuk menghadapi Pilgub 2013, Arizka menganggap itu bukan masalah selagi balon memandang sosialisasi itu tetap perlu. Menurut dia, apa yang dilakukan dalam rakor itu belum mempunyai dasar hukum dan politik yang kuat.
 ’’Ini sekadar kesepakatan forum, perlu tindak lanjut yang formal terhadap hasil rakor itu,’’ ujar lulusan Universiti Kebangsaan Malaysia ini.
Arizka juga menyayangkan kalau tetap memaksa pilgub dilakukan pada 2015. Menurut dia, tahapan dimulai pada Oktober 2013 itu sudah waktu yang pas dan menjadi titik kompromi. Dari awal, Arizka tidak setuju waktu pilgub versi kpu Lampung bahwa tahapan pilgub dimulai pada Februari 2013. Ia juga tidak setuju pilgub dilakukan pada 2015.
Ia berharap Kemendagri tidak sampai membuat preseden baru yang memaksa Pilgub 2015 tidak dilandasi oleh bagan dan aturan main yang semestinya sangat buruk untuk pembinaan demokrasi di level lokal. Karena itu, seharusnya yang mesti didorong Kemendagri adalah Komisi II DPR RI segera mengesahkan ruu Pilkada.
Sementara itu, ia menguraikan, titik kompromi tahapan yang dimulai pada Oktober 2013 sehingga spasi waktu antara April sampai dengan Mei 2014, gubernur Lampung yang baru sudah terpilih. Dengan demikian, tinggal diatur jadwal yang untuk setiap tahapan. Jika Pilgub 2015, kata dia, Kemendagri telah membiarkan  ’’pembiasaan’’ terjadinya penanggung jawab sementara (Pjs.) di pemerintah daerah.
 ’’Karena mau tidak mau, pasca Juni sampai dengan terpilih gubernur baru, kan mesti ada Pjs. Saya sih berpikir simpel saja. Agar polemik ini tidak berlarut, seharusnya KPU Pusat dan Mendagri mendesak DPR segera mengesahkan RUU Pilkada dan Pemda. Hingga kini, kata dia, yang dilakukan, termasuk pertemuan terakhir itu, hanya berupa trial and error proses politik di daerah dan ini tidak semestinya demikian,’’ ungkapnya.

MAJU TERUS CALON INDEPENDEN (Belajarlah dari Pilgub Lampung)


Arizka Warganegara
(Dosen Ilmu Pemerintahan dan Peneliti FISIP Universitas Lampung)

Calon Independen tidak laku di Lampung, begitulah Head Line Harian Media Indonesia tanggal 4 september 2009, ada apa dengan calon independen? Mungkin itu kalimat yang mesti dipertanyakan kepada para akademisi dan aktivis sosial yang terus mendorong keberadaan calon independen.

Bagi saya, dengan keikutsertaan calon independen dalam Pilgub Lampung saja, itu sudah merupakan berkah, bagaimana tidak, ketika nuansa oligarki partai politik dan kerasnya faktor modal dalam ranah politik lokal di Indonesia, Pilgub Lampung menjadi pilgub pertama yang mengizinkan calon independen ikut berkompetisi. Jika kemudian masalah hasil akhir penghitungan suara calon independen di Lampung agak mengecewakan, itu persoalan lain.

Hasil quick count Pilgub Lampung versi LSI Saiful Mujani menunjukkan hal yang sangat ironi, dua pasangan Calon Independen Lampung pasangan mantan Rektor Universitas Lampung, Muhajir Utomo dan Andi Arief serta Pasangan Mantan Kapolda Metro Jaya, Sofyan Jacoeb dan Bambang Waluyo Utomo masing –masing hanya memperoleh suara 3,42 persen dan 2,30 persen, angka ini sangat jauh dibandingkan dengan perolehan dukungan minimal 4 persen dalam bentuk KTP yang mereka harus kumpulkan manakala akan mencalonkan diri sebagai cagub dari jalur independen.

Disatu sisi keberdaan calon independen di Lampung adalah sebuah berkah walaupun jika merujuk hasil akhir ini merupakan sebuah ironi. Sebuah ironi yang seharusnya sudah diperhitungkan oleh kedua calon independen tersebut, ternyata dalam ranah politik praktis idealisme yang membara saja tidak cukup terdapat faktor-faktor lain yang mesti dipertimbangkan secara matang, antara lain faktor uang politik, mesin politik dan tidak maksimalnya sosialisasi.

Empat Faktor Utama

Berdasarkan Pasal 59 ayat 2a UU NO.12/2008 dengan jumlah penduduk sekitar 7,3 juta jiwa, sang calon mesti mengumpulkan dukungan minimal 4 persen untuk maju sebagai calon independen dalam Pilgub Lampung, jika angka ini riil maka seharusnya kedua calon independen Pilgub Lampung masing-masing sudah memperoleh dukungan minimal sekitar 292.000 pemilih.

Mengacu pada tingkat partisipasi yang di-rilist 68,99 persen (versi LSI Saiful Mujani) maka akan didapatkan angka 3.725.460 jiwa penduduk lampung yang mencoblos pada hari H, dan sekali lagi jika angka 292.000 dipersentasekan dari angka total pemilih pada hari H sejumlah 3.725.460 maka setidaknya dalam pilgub Lampung, masing-masing calon independen memeroleh modal awal suara 7,8 persen.

Logikanya tidak melakukan kampanye saja seharusnya calon independen sudah memeroleh suara 7,8 persen dari pemilih. Akan tetapi mengapa capaian suara kedua calon independen Pilgub Lampung hanya sekitar 2-3 persen?
Setidaknya terdapat empat faktor yang menyebabkan calon independen kurang begitu laku pada Pilgub Lampung, Fakor Pertama adalah persoalan uang politik (modal) harus diakui dalam ranah politik praktis faktor uang tetap menjadi major factor yang tidak bisa dinapikkan begitu saja.

Faktor uang politik menjadi sangat signifikan dikala sang calon memobilisasi massa, dan keberadaan calon independen sebagai individu politik yang berdiri sendiri tidak dibangun berdasar pada konsep transaksi politik menyebabkan kemampuan sang calon independen untuk memeroleh uang politik (modal-red) menjadi sangat terbatas.

Kemampuan cagub partai politik untuk mengumpulkan uang politik selangkah lebih baik dibandingkan dengan calon independen, hal ini lumrah terjadi manakala transaksi politik dalam partai politik akan lebih kentara dibandingakan dengan calon independen, bagi-bagi kekuasaan akan lebih jelas porsinya dalam wajah parpol dibandingkan dengan calon independen, sehingga pemodal cenderung lebih menyukai calon Parpol dibandingkan dengan calon Independen.

Faktor Kedua, mesin politik yang efektif secara tidak langsung adalah keunggulan partai politik dibandingkan dengan calon independen, jika partai politik telah mempunyai mesin politik di level pusat sampai dengan anak ranting, dan hal tersebut telah tersusun secara sistematis, sangat kontras jika dibandingkan dengan calon independen yang semua serba instan dan mendadak.

Dalam konteks Lampung misalkan, calon independen hanya mempunyai waktu efektif hanya sebulan untuk mempersiapkan segala hal, dimulai dari pengumpulan dukungan yang harus mengikuti aturan resmi KPU, verifikasi dukungan yang terkadang dinyatakan tidak valid oleh KPU-D dan hal lain yang sifatnya teknis, sementara yang sifatnya substansi seperti penyiapan media kampanye, program (visi-misi) sampai dengan hal yang paling penting ‘mesin politik’ tidak tergarap dengan baik.

Faktor Ketiga, tidak maksimalnya sosialisasi, dalam kasus Lampung, waktu antara diundangkannya peraturan formal calon Independen dengan persiapan yang dimiliki oleh para calon independen, sangatlah tidak memungkinkan untuk mereka menjangkau wilayah yang begitu luas seperti Lampung.

Hal ini sangat kontras jika dibandingkan dengan calon dari partai politik, dan apalagi jika dibandingkan dengan calon incumbent yang setidaknya memiliki waktu yang relatif lebih panjang pada masa periode jabatannya untuk melakukan sosialiasi politik ke masyarakat pemilih.

Faktor Keempat, saya menilai para calon independen pada Pilgub Lampung, kurang berani memilih isu-isu ekstrim sebagai bagian dari program visi misi kampanye mereka, terdapat kecenderungan calon independen dalam Pilgub Lampung hanya menyerukan isu-isu serta program visi misi yang sama dengan calon parpol.

Para calon Independen harus lebih berani menyuarakan persoalan-persoalan yang lebih ekstrim dan membumi, misalkan saja calon independen lebih berani menyuarakan skenario yang lebih radikal dalam memberantas korupsi atau membuat pernyataan mudur dini sebagai Gubernur jika program-program yang dijanjikan tidak berjalan, sehingga rakyat akan memberikan sebuah catatan ‘lebih’ terhadap program dan visi misi calon independen dibandingkan dengan cagub dari partai politik.

Apa Hikmahnya

Bagi para kandidat calon independen masa depan tidaklah perlu berkecil hati dengan hasil Pilgub Lampung dan Pilwalkot Bandung. Kedua pemilukada ini hanyalah buih kecil dalam arus gelombang lautan yang begitu membahana. Niat tulus awal teman-teman akademisi dan aktivis sosial mendorong keberadaan Calon Independen, berdasar pada asumsi bahwa keberadaan calon independen akan membuat sistem politik lebih sehat dan terbebas dari malpraktik oligarkisme partai politik.

Mempersiapkan diri sebaik mungkin dan sedini mungkin sebagai kandidat calon independen mungkin adalah jalan yang dapat ditempuh bagi siapa saja yang ingin menduduki jabatan politik dengan menggunakan perahu calon independen.

Memperbaiki beberapa kekurangan calon independen Lampung dan Bandung, dengan cara mempersiapkan sejak dini mesin politik, uang politik dan melakukan long term sosialisasi adalah langkah awal yang mesti dilakukan oleh para kandidat calon Independen.

Mengutip iklan Rizal Malarangeng there is a will, there is a way, jika ada kemauan pasti ada jalan, maju terus calon independen negara ini bukan hanya milik para komprador pemilik modal partai politik saja..semoga 

Monday, December 3, 2012

PPP: Siapa Tahu Raja Dangdut Jadi Presiden?


JAKARTA, KOMPAS.com — Partai Persatuan Pembangunan hingga saat ini belum secara khusus membahas pengusungan kadernya, Rhoma Irama, sebagai calon presiden di Pemilu 2014. Hanya, PPP menyambut baik dorongan Rhoma menjadi capres. Hal itu dikatakan Sekretaris Jenderal DPP Partai Persatuan Pembangunan M Romahurmuziy alias Romi melalui pesan singkat, Senin (3/12/2012), menyikapi wacana Rhoma menjadi capres.
Romi mengatakan, pihaknya melihat berbagai aspek untuk mengusung seseorang menjadi capres, seperti modal popularitas, kapasitas, kepantasan, dan elektabilitas. Setidaknya, kata dia, Rhoma sudah memiliki modal popularitas sebagai raja dangdut.
"Tinggal modal selanjutnya saja dipupuk dan dilakukan test the water. Siapa tahu dari raja dangdut jadi presiden republik? Wong pemilih sekarang kadang-kadang perilakunya tidak bisa diduga," kata Romi.
DPP PPP, tambah Romi, bergerak sesuai amanat Mukernas di Lirboyo pada Januari 2012 lalu terkait pencapresan. Amanat itu, yakni menginventarisasi dan mencermati putra-putri terbaik bangsa yang pantas diajukan sebagai capres atau cawapres.
"Baik dari dalam maupun dari luar partai politik, karena itu, PPP mempersilakan kepada masyarakat untuk menilai pencalonan Rhoma tersebut. Pada saatnya, DPP PPP akan menyikapinya," pungkas dia.
Di PPP, Rhoma tercatat sebagai juru kampanye PPP pada era 1980-1990-an. Jabatan terakhir Rhoma di PPP disebut sebagai Wakil Ketua Majelis Syariah DPP PPP masa bakti 2007-2011. Selain PPP, Partai Kebangkitan Bangsa juga mengaku melirik Rhoma sebagai capres.

Demokrasi Kosmopolitan dan Toleransi


Arizka Warganegara
Dosen FISIP Universitas Lampung
Namanya Lim Hock Yuan, seorang sahabat lama dan mungkin bagai seorang abang buat saya. Sudah hampir 5 tahun kami tidak perah bersua. Lim adalah seorang asisten profesor di kampus tempat saya kuliah dulu, seorang Tionghoa, warga negara Malaysia.
Di tengah persoalan gap antaretnis yang cukup tinggi di negaranya, sosok Lim tetaplah seorang nasionalis sejati. Penguasaan bahasa Melayu Lim sangat baik jika dibandingkan dengan orang-orang Tionghoa kebanyakan di negaranya. Selain cerdas, sosok Lim adalah sosok yang sederhana dan bersahaja.
Akan tetapi Lim (begitu saya memanggilnya) selalu tidak lupa untuk mengirimkan e-mail di saat kita merayakan Lebaran. Dan saya pun baru tersadar, ternyata sosok Lim yang selalu mengucapkan selamat Lebaran pertama kali kepada saya walau itu hanya sebatas via e-mail: "Selamat Hari Raya Aidilfitri, Maaf zahir batin. Dengan ingatan tulus ikhlas daripada Lim." Begitulah bunyi e-mail yg selalu Lim kirim ke saya tiap Lebaran. Dan itu Lim lakukan secara konsisten tiap menjelang Lebaran.
Jepang-Bangi-dan Bandar Lampung memisahkan kami untuk bercengkarama, saya teringat pertemuan terakhir sesaat sebelum saya lulus dan segera pulang ke Indonesia, serta Lim akan berangkat penelitian ke Jepang kira-kira empat atau lima tahun yang lalu. Pada saat itu, Lim dan saya selalu berjanji untuk terus bersilaturahmi walaupun jarak dan waktu memisahkan persahabatan kita berdua.
Lim merupakan sosok pemeluk Agama Buddha taat dan seorang yang konsisten menjadi vegetarian dan selalu berbaik hati memberikan saya sebungkus roti stick yangg khusus dimakan oleh para vegetarian.
Sembari berkata "Arizka, ayo makan roti ini. Roti stick ini halal dan bagus untuk kesehatan karena terbuat dari sayuran." Saya agak tersentuh kala itu. Sosok Lim yang penganut Buddha sangat paham akan terminologi dan redaksional halal bagi saudara-saudara muslimnya. Sungguh, sebenarnya upaya yang sulit dilakukan seorang pemeluk agama untuk mencoba memahami ajaran agama lain di luar agamanya. Dan Lim telah dengan ikhlas mencoba memahami terminologi halal dengan baik. Di zaman sekarang, sangat jarang pemahaman dan kesadaran tersebut dimiliki oleh sosok nonmuslim dan Lim memiliki kesadaran itu.
Kembali ke poin di atas, walaupun pada awalnya saya tahu bahwa itu adalah porsi makan siang Lim yg dia berikan kepada saya, di masa awal tradisi "pemberian" itu berat buat saya untuk menolak. Tetapi karena pancaran mata Lim yang begitu ikhlas, akhirnya saya tak kuasa menerima sebungkus roti stick tersebut. Dan akhirnya, seolah menjadi kebiasaan kami, Lim-Arizka dan kunyahan roti stick, seolah menjadi tiga serangkai yang selalu mewarnai diskusi kami.
Kebaikan hati seorang penganut agama yang taat ditunjukkan oleh seorang Lim. Keluwesan Bang Lim bergaul dengan penganut agama yang berbeda darinya, apresiasi keberagaman beragama yang Lim tunjukkan semisal selalu mengucapkan selamat Idulfitri sebelum yang lain mengucapkannya dan ketulusan hatinya untuk menolong sesama manusia adalah manifestasi ketaatan beragama. Dan seharusnya dan idealnya umat Islam memeroleh itu pasca-Ramadan.
Pembelajaran toleransi juga dapat kita peroleh dari sosok Lim, menghargai perbedaan serta bersikap plural terhadap persaudaraan adalah hal positif yang bisa kita kembangkan bagi membentuk bangunan model demokrasi yang lebih kosmopolitan. Sebuah model demokrasi yang paling ideal dalam negara yang plural dari sisi etnis dan agama seperti Indonesia.
Bahkan, pada prinsipnya kemungkinan pernikahan antaretnis sangat digalakkan untuk membantu terhadap perkembagan demokrasi kosmopolitan. Dengan sendirinya, demokrasi kosmopolitan akan berkembang di atas pluralisme yang positif. Kecurigaan antaretnis dan agama dapat diredam dengan mengembangkan sikap hidup yang lebih toleran. Dan itu telah berhasil dilakukan oleh Rasulullah saw. dengan mengembangkan peradaban madani dalam komunitas negara Madinah lebih dari 15 abad yang lalu.
Hal ini selaras dengan pandangan Anthony Giddens, seorang sosiolog di LSE (London School of Economics), juga menyarankan bagi mengembangkan sikap hidup yang plural bagi membangun demokrasi yang kosmopolitan. Dan menurut hemat saya, Islam di Indonesia dapat menjadi contoh terhadap perkembangan demokrasi yang kosmopolitan tersebut. Indikatornya mudah saja, bagaimana respons perayaan Lebaran dari penganut ajaran selain Islam terhadap umat Islam saya rasa layak kita ajukan sebagai sebuah bukti demokrasi kosmopolitan telah berkembang di Indonesia.
Pada akhirnya kesemua itu, apa yang Lim tunjukkan telah memberikan kesadaran hakiki kepada kita bahwa dunia ini akan menjadi damai manakala semua pemeluk agama menyakini dan menjalankan perintah agamanya secara ikhlas dan tidak mengintervensi satu dan yang lainnya. Toleransi juga merupakan kata kunci bagi mengembangkan demokrasi kosmopolitan yang kita cita-citakan bagi mencapai masyarakat yang lebih beradab dan sejahtera.

Thursday, November 29, 2012

Latar Belakang Sejarah Konflik Palestina – Israel


Konflik Palestina – Israel menurut sejarah sudah 31 tahun ketika pada tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dan berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Sampai sekarang perdamaian sepertinya jauh dari harapan. Ditambah lagi terjadi ketidaksepakatan tentang masa depan Palestina dan hubungannya dengan Israel di antara faksi-faksi di Palestina sendiri.
## hasil editan tulisan sebelumnya, karena ada koreksi
Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengingat sekaligus upaya membuka pemahaman kita mengenai latar belakang sejarah sebab terjadinya konflik ini.
*2000 SM – 1500 SM*
Istri Nabi Ibrahim A.s., Siti Hajar mempunyai anak Nabi Ismail A.s. (bapaknya bangsa Arab) dan Siti Sarah mempunyai anak Nabi Ishak A.s. yang kemudian mempunyai anak Nabi Ya’qub A.s. alias Israel (Israil, Qur’an). Anak keturunannya disebut Bani Israel sebanyak 7 orang 12 orang ##. Salah satunya bernama Nabi Yusuf A.s. yang ketika kecil dibuang oleh saudara-saudaranya yang dengki kepadanya. Nasibnya yang baik membawanya ke tanah Mesir dan kemudian dia menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ketika masa paceklik, Nabi Ya’qub A.s. beserta saudara-saudara Yusuf bermigrasi ke Mesir. Populasi anak keturunan Israel (Nabi Ya’qub A.s.) membesar.
*1550 SM – 1200 SM*
Politik di Mesir berubah. Bangsa Israel dianggap sebagai masalah bagi Negara Mesir. Banyak dari bangsa Israel yang lebih pintar dari orang asli Mesir dan menguasai perekonomian. Oleh pemerintah Firaun bangsa Israel diturunkan statusnya menjadi budak.
*1200 SM – 1100 SM*
Nabi Musa A.s. memimpin bangsa Israel meninggalkan Mesir, mengembara di gurun Sinai menuju tanah yang dijanjikan, asalkan mereka taat kepada Allah Swt – dikenal dengan cerita Nabi Musa A.s. membelah laut ketika bersama dengan bangsa Israel dikejar-kejar oleh tentara Mesir menyeberangi Laut Merah.
Namun saat mereka diperintah untuk memasuki tanah Filistin (Palestina), mereka membandel dan berkata:
“Hai, Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi ada orang yang gagah perkasa di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu (Tuhanmu), dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”
-(QS 5:24)-
Akibatnya mereka dikutuk oleh Allah Swt dan hanya berputar-putar saja di sekitar Palestina. Belakangan agama yang dibawa Nabi Musa A.s. disebut Yahudi – menurut salah satu marga dari bangsa Israel yang paling banyak keturunannya, yakni Yehuda, dan akhirnya bangsa Israil – tanpa memandang warga negara atau tanah airnya – disebut juga orang-orang Yahudi.
## Sulit mengetahui asal-usul penyebutan nama Yahudi, apalagi dinisbatkan kepada Yehuda. Di dalam Perjanjian Lama, kata “Yahudi” baru mulai ditemukan pada kitab Ezra. Sedangkan pada kitab-kitab sebelumnya hanya disebut anak-anak Israel atau Bani Israel. Di dalam Alquran atau Hadits sendiri anak keturunan Nabi Ya’qub disebut Bani Israil, sedangkan penyebutan “Yahudi” lebih sering bermakna golongan yangdimurkai Allah, dien (atau jalan hidup seperti Nasrani, Sabiin, Majusi dan Islam)
*1000 SM – 922 SM*
Nabi Daud A.s. (anak Nabi Musa A.s.) mengalahkan Goliath (Jalut, Qur’an) dari Filistin. Palestina berhasil direbut. Daud kemudian menjadi raja menggantikan Raja Thalut. Wilayah kerajaannya membentang dari tepi sungai Nil hingga sungai Efrat di Iraq. Sekarang ini Yahudi tetap memimpikan kembali kebesaran Israel Raya seperti yang dipimpin raja Daud. Bendera Israel adalah dua garis biru (sungai Nil dan Eufrat) dan Bintang Daud. Kepemimpinan Daud A.s. diteruskan oleh anaknya, Nabi Sulaiman A.s.
*922 SM – 800 SM*
Sepeninggal Sulaiman A.s., Israel dilanda perang saudara yang berlarut-larut, hingga akhirnya kerajaan itu terbelah menjadi dua, yakni bagian Utara bernama Israel beribukota Samaria dan Selatan bernama Yehuda beribukota Yerusalem.
*800 SM – 600 SM*
Karena kerajaan Israel sudah terlalu durhaka kepada Allah Swt maka kerajaan tersebut dihancurkan oleh Allah Swt melalui penyerangan kerajaan Asyiria.
“Sesungguhnya Kami telah mengambil kembali perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini hawa nafsu mereka, maka sebagian rasul-rasul itu mereka dustakan atau mereka bunuh.”
-(QS 5:70)-
Hal ini juga bisa dibaca di Injil (Bible) pada Kitab Raja-raja ke-1 14:15 dan Kitab Raja-raja ke-2 17:18.
*600 SM – 500 SM*
Kerajaan Yehuda dihancurkan lewat tangan Nebukadnezar dari Babylonia . Dalam Injil Kitab Raja-raja ke-2 23:27 dinyatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak lagi atas Yerusalem. Mereka diusir dari Yerusalem dan dipenjara di Babylonia .
*500 SM – 400 SM*
Cyrus Persia meruntuhkan Babylonia dan mengijinkan bangsa Israel kembali ke Yerusalem.
*330 SM – 322 SM*
Israel diduduki Alexander Agung dari Macedonia (Yunani). Ia melakukan hellenisasi terhadap bangsa-bangsa taklukannya. Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi Israel. Penulisan Injil dalam bahasa Yunani bukan karena bahasa resmi Israel yang pada saat itu dijajah oleh Romawi. Melainkan penulis dan penyebar Injil, Paulus, memang orang romawi yang berbahasa yunani.
*300 SM – 190 SM*
Yunani dikalahkan Romawi. Maka Palestina pun dikuasai imperium Romawi.
*1 – 100 M*
Nabi Isa A.s. lahir. Nantinya akan ada penghembusan isu bahwa Nabi Isa merupakan pemimpin gerakan melawan penguasa Romawi. Riil-nya Nabi Isa tidak membangun gerakan melawan penguasa Romawi, justru isu tersebut dihembuskan oleh para Rabbi Yahudi yang tidak suka ajaran puritan (kembali ke Taurat asli) yang dibawa oleh Nabi Isa. Pilatus sendiri menyalib Nabi Isa atas desakan para Imam yang cemburu kepada Nabi Isa. Mengapa? karena Pilatus tidak beragama Yahudi sehingga hukuman untuk orang Yahudi haruslah ditentukan oleh orang Yahudi sendiri.
*100 – 300 *
Pemberontakan berulang. Akibatnya Palestina dihancurkan dan dijadikan area bebas Yahudi. Mereka dideportasi keluar Palestina dan terdiaspora ke segala penjuru imperium Romawi. Namun demikian tetap ada sejumlah kecil pemeluk Yahudi yang tetap bertahan di Palestina. Dengan masuknya Islam kemudian, serta dipakainya bahasa Arab di dalam kehidupan sehari-hari, mereka lambat laun terarabisasi atau bahkan masuk Islam.
*313 *
Pusat kerajaan Romawi dipindah ke Konstantinopel dan agama Kristen dijadikan agama negara.
*500 – 600*
Nabi Muhammad Saw lahir di tahun 571 M. Bangsa Yahudi merembes ke semenanjung Arabia (di antaranya di
Khaibar dan sekitar Madinah), kemudian berimigrasi dalam jumlah besar ke daerah tersebut ketika terjadi perang antara Romawi dengan Persia .
*621*
Nabi Muhammad Saw melakukan perjalanan ruhani Isra’ dari masjidil Haram di Makkah ke masjidil Aqsa di Palestina dilanjutkan perjalana Mi’raj ke Sidrathul Muntaha (langit lapis ke-7). Rasulullah menetapkan Yerusalem sebagai kota suci ke-3 ummat Islam, dimana sholat di masjidil Aqsa dinilai 500 kali dibanding sholat di masjid lain selain masjidil Haram di Makkah dan masjid Nabawi di Madinah. Masjidil Aqsa juga menjadi kiblat umat Islam sebelum dipindah arahnya ke Ka’bah di masjidil Haram, Makkah.
*622*
Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Madinah dan pendirian negara Islam – yang selanjutnya disebut khilafah. Nabi mengadakan perjanjian dengan bangsa Yahudi yang menjadi penduduk Madinah dan sekitarnya, yang dikenal dengan “Piagam Madinah”.
*626*
Pengkhianatan Yahudi dalam perang Ahzab (perang parit) dan berarti melanggar Perjanjian Madinah. Sesuai dengan aturan di dalam kitab Taurat mereka sendiri, mereka harus menerima hukuman dibunuh atau diusir.
*638*
Di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnu Khattab ra. Seluruh Palestina dimerdekakan dari penjajah Romawi. Seterusnya seluruh penduduk Palestina, Muslim maupun Non Muslim, hidup aman di bawah pemerintahan khilafah. Kebebasan beragama dijamin sepenuhnya.
*700 – 1000*
Wilayah Islam meluas dari Asia Tengah, Afrika hingga Spanyol. Di dalamnya, bangsa Yahudi mendapat peluang ekonomi dan intelektual yang sama. Ada beberapa ilmuwan terkenal di dunia Islam yang sesungguhnya adalah orang Yahudi.
*1076*
Yerusalem dikepung oleh tentara salib dari Eropa. Karena pengkhianatan kaum munafik (sekte Drusiah yang mengaku Islam tetapi ajarannya sesat), pada tahun 1099 M tentara salib berhasil menguasai Yerusalem dan mengangkat seorang raja Kristen. Penjajahan ini berlangsung hingga 1187 M sampai Salahuddin Al-Ayyubi membebaskannya dan setelah itu ummat Islam yang terlena sufisme yang sesat bisa dibangkitkan kembali.
*1453*
Setelah melalui proses reunifikasi dan revitalisasi wilayah-wilayah khilafah yang tercerai berai setelah hancurnya Baghdad oleh tentara Mongol (1258 M),khilafah Utsmaniah di bawah Muhammad Fatih menaklukan Konstatinopel, dan mewujudkan nubuwwah Rasulullah.
*1492*
Andalusia sepenuhnya jatuh ke tangan Kristen Spanyol (reconquista) . Karena cemas suatu saat umat Islam bisa bangkit lagi, maka terjadi pembunuhan, pengusiran dan pengkristenan massal. Hal ini tidak cuma diarahkan pada Muslim namun juga pada Yahudi. Mereka lari ke wilayah khilafah Utsmaniyah, diantaranya ke Bosnia. Pada 1992 Raja Juan Carlos dari Spanyol secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Israel atas holocaust (pemusnahan etnis) 500 tahun sebelumnya. (Tapi tidak permintaan maaf kepada umat Islam).
*1500 – 1700*
Kebangkitan pemikiran di Eropa, munculnya sekularisme (pemisahan agama/ gereja dengan negara), nasionalisme dan kapitalisme. Mulainya kemajuan teknologi moderen di Eropa. Abad penjelajahan samudera dimulai. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif ke India dan Cina, tanpa melalui daerah-daerah Islam. Tapi akhirnya mereka didorong oleh semangat kolonialisme dan imperialisme, yakni Gold, Glory dan Gospel. Gold berarti mencari kekayaan di tanah jajahan, Glory artinya mencari kemasyuran di atas bangsa lain dan Gospel (Injil) artinya menyebarkan agama Kristen ke penjuru dunia.
*1529*
Tentara khilafah berusaha menghentikan arus kolonialisme/ imperialisme serta membalas reconquista langsung ke jantung Eropa dengan mengepung Wina, namun gagal. Tahun 1683 M kepungan diulang, dan gagal lagi. Kegagalan ini terutama karena tentara Islam terlalu yakin pada jumlah dan perlengkapannya.
“… yaitu ketika kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlahyang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dan bercerai-berai.”
-(QS 9:25)-.
*1798*
Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi masih di bawah Khilafah.
*1831*
Untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah dirongrong oleh semangat nasionalisme yang menular begitu cepat di tanah Arab.
*1835*
Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana . Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah Khilafah.
*1838*
Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina.
*1849*
Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang.
*1882*
Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.
*1891*
Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus ). Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.
*1897*
Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.
*1916*
Perjanjian rahasia Sykes – Picot oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya Perang Dunia (PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, Inggris mendapat control atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).
*1917*
Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.
*1938*
Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (endivsung). Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita di dunia.
*1944*
Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik “membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana .” Kondisi Palestina pun memanas.
*1947*
PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel .
*1948, 14 Mei*.
Sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel . Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah,
hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania , Syria , Mesir dan lain-lain. Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris – lihat Imperialisme Perancis dan Inggris di tanah Arab sejak tahun 1798 – maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.
*1948, 2 Desember*
Protes keras Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel . Usaha ini kandas bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri IM bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati.
*1956, 29 Oktober*
Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez . Pada kurun waktu ini, militer di Yordania menawarkan baiat ke Hizbut Tahri (salah satu harakah Islam) untuk mendirikan kembali Khilafah. Namun Hizbut Tahrir menolak, karena melihat rakyat belum siap.
*1964*
Para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization) . Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.
*1967*
Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan, Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA (Central Intelligence Agency = Badan Intelijen Pusat milik USA ). Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia ada di udara.
*1967, Nopember*
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara adil masalah pengungsi Palestina.
*1969*
Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania.
*1970*
Berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dari Yordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.
*1973, 6 Oktober*
Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia Cuma siap untuk melawan Israel , namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.
*1973, 22 Oktober*
Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.
*1977*
Pertimbangan ekonomi (perang telah memboroskan kas negara) membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.
*1978, September*
Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel . Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel .
*1980*
Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.
*1982*
Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya, dan Tunis .
*1987*
Intifadhah, perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.
*1988, 15 Nopember*
Diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota.Aljazair. Dengan bentuk negara Republik Parlementer. Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser Arafat. Setelah Yasser Arafat mangkat kursi presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan Parlemen Palestina beranggotakan 500 orang.
*1988, Desember*
AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.
*1991, Maret*
Yasser Arafat menikahi Suha, seorang wanita Kristen. Sebelumnya Arafat selalu mengatakan “menikah dengan revolusi Palestina”.
*1993, September*
PLO – Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu
dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara negara Arab ( Saudi Arabia , Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian.
Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel , PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi.
Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.
*1995*
Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya, menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “ Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai).”
*1996*
Pemilu di Israel dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel . Ia bahkan ingin menunggu/menciptaka n kontelasi baru (pemukiman Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru.
AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di AS terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel . Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel .
Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS “jalan sendiri” tanpa bicara dengan Eropa.
*2002 – Sampai sekarang*
Sebuah usul perdamaian saat ini adalah Peta menuju perdamaian yang diajukan oleh Empat Serangkai Uni Eropa, Rusia, PBB dan Amerika Serikat pada 17 September 2002 . Israel juga telah menerima peta itu namun dengan 14 “reservasi”. Pada saat ini Israel sedang menerapkan sebuah rencana pemisahan diri yang kontroversial yang diajukan oleh Perdana Menteri Ariel Sharon. Menurut rencana yang diajukan kepada AS, Israel menyatakan bahwa ia akan menyingkirkan seluruh “kehadiran sipil dan militer yang permanen” di Jalur Gaza (yaitu 21 pemukiman Yahudi di sana, dan 4 pemumikan di Tepi Barat), namun akan “mengawasi dan mengawal kantong-kantong eksternal di darat, akan mempertahankan kontrol eksklusif di wilayah udara Gaza, dan akan terus melakukan kegiatan militer di wilayah laut dari Jalur Gaza.
Pemerintah Israel berpendapat bahwa “akibatnya, tidak akan ada dasar untuk mengklaim bahwa Jalur Gaza adalah wilayah pendudukan,” sementara yang lainnya berpendapat bahwa, apabila pemisahan diri itu terjadi, akibat satu-satunya ialah bahwa Israel “akan diizinkan untuk menyelesaikan tembok – artinya, Penghalang Tepi Barat Israel – dan mempertahankan situasi di Tepi Barat seperti adanya sekarang ini.
Di hari kemenangan Partai Kadima pada pemilu tanggal 28 Maret 2006 di Israel, Ehud Olmert – yang kemudian diangkat sebagai Perdana Menteri Israel menggantikan Ariel Sharon yang berhalangan tetap karena sakit – berpidato. Dalam pidato kemenangan partainya, Olmert berjanji untuk menjadikan Israel negara yang adil, kuat, damai, dan makmur, menghargai hak-hak kaum minoritas, mementingkan pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan serta terutama sekali berjuang untuk mencapai perdamaian yang kekal dan pasti dengan
bangsa Palestina. Olmert menyatakan bahwa sebagaimana Israel bersedia berkompromi untuk perdamaian, ia mengharapkan bangsa Palestina pun harus fleksibel dengan posisi mereka. Ia menyatakan bahwa bila Otoritas Palestina, yang kini dipimpin Hamas, menolak mengakui Negara Israel, maka Israel “akan menentukan nasibnya di tangannya sendiri” dan secara langsung menyiratkan aksi sepihak. Masa depan pemerintahan koalisi ini sebagian besar tergantung pada niat baik partai-partai lain untuk bekerja sama dengan perdana menteri yang baru terpilih.
Sementara itu sebelum terjadinya serangan habis-habisan Israel ke Gaza (27/12/2008), sudah terjadi serangan-serangan kecil di antara kedua belah pihak di sekitar Jalur Gaza, disebabkan Israel menutup tempat-tempat penyeberangan atau jalur komersial ke Gaza sehingga pasokan bahan baker minyak terhenti, yang memaksa satu-satunya pusat pembangkit listrik di Jalur Gaza tutup.
Sumber: milis FUSI-FTUI
Rujukan:
http://sabdaweb. sabda.org/ bible/
http://alkitab. otak.info/
http://quran. al-islam. com/ind/
http://hadith. al-islam. com/bayan/ Tree.asp? Lang=ind
Bacaan:
http://media. isnet.org/ antar/etc/ Yahudi.html
http://id.wikipedia .org/wiki/ Yahudi
http://en.wikipedia .org/wiki/ Who_is_a_ Jew%3F
http://hotarticle. org/pengubahan- taurat-oleh- yahudi/

Perbandingan Komunikasi Politik Presiden Indonesia


Sumber: Kompas.com, Minggu, 5 April 2009
Penulis: Prof Dr Tjipta Lesmana, M.A.
Terbit : Januari 2009
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-4095-5
Halaman: 426 / HVS
Dalam sebuah tesisnya, Weber pernah menengarai adanya suatu perubahan sosial masyarakat. Perubahan itu tampak jelas ketika adanya suatu perbandingan yang membedakan antara masyarakat zaman sekarang dengan masyarakat sebelumnya. Menurutnya, perubahan itu tidak lepas dari perubahan intelektualitas yang dimiliki individu-individu yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri.
Sebagai makhluk sosial, para presiden pun tidak lepas dari perbedaan antara presiden satu dengan lainnya. Termasuk dari aspek pemahaman maupun penyikapannya terhadap realitas kehidupan bangsa-negara. Memang, secara geneologis jabatan presiden yang dipikul mereka pun tidak jauh berbeda dalam tataran hukum yang mengikat dan mengatur. Namun, dalam praksisnya, pasti akan muncul sejumlah perbedaan. Dari perbedaan-perbedaan inilah yang kemudian menimbulkan sederet realitas kehidupan bangsa-negara yang tidak mesti sama.
Namun, dalam buku ini, tingkat perbedaan intelektulitas seorang presiden dengan presiden lainnya, terbukti bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perubahan sosial bangsa-negara. Menurut Tjipta Lesmana, perbedaan tingkat emosional dan spiritual juga memiliki andil dalam perubahan. Artinya, tingkat perbedaan intelektualitas, emosionalitas, dan spiritulitas antara Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, berkorelasi positif dengan perbedaan pola interaksi sosial mereka. Dari perbedaan interaksi sosial yang berkaitan erat dengan pola komunikasi inilah yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang berbeda pula. Mulai intrik, lobi politik hingga menyikapi kritik pun, mereka belum tentu sama dalam satu pola komunikasi politik.
Dalam buku ini, kajian komunikasi politik keenam presiden kita dibagi dalam enam bab. Bab I, di duduki oleh Soekarno. Dalam bab ini, presiden pertama kita ini tampak sebagai sosok yang memiliki ilmu yang dalam, piawai menganalisis situasi politik, matang dalam berpolitik, dan berani menghadapi tantangan dan tegas. Namun, ”Singa Podium” ini tak ubahnya seperti manusia biasa yang punya amarah dan salah. Dalam kemarahannya, ia sering menggebrak meja, menggedor kiri-kanan, menghardik sasaran dengan suara yang keras, menantang, memperingatkan dan mengancam (hlm.5). Semua itu sering disampaikannya dalam bahasa, meminjam istilah Edward T. Hall (1976), yang low context; jelas, tegas, dan tanpa tedeng aling-aling. Selain itu, ia sering menggunakan bahasa yang mengulang-ulang.
Berbeda dengan Soeharto, dalam bab II, yang lebih banyak mendengar dan mesem (senyum). Dalam berkata, ia sering menggunakan bahasa yang high context; tidak jelas, penuh kepura-puraan (impression management), teka-teki, rahasia, dan amat santun serta multi tafsir. Tidak jarang para menteri perlu merenungkan atau menanyakan kepada orang lain tentang arti dari kominikasi presiden terhadap mereka. Bagi yang tidak memahami komunikasi tingkat tinggi ini, perlu siap-siap menuai gebukan atau perlawanan rakyat dan lingkungan sekitar. Semisal, kasus penyerbuan massa PDI Soerjadi terhadap Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996. Dalam kasus ini, Sutiyoso yang dianggap bertanggung jawab waktu itu, berdalih bahwa peristiwa itu berasal dari perintah ”atasan”. Sementara, Feisal Tandjung mengatakan bahwa Soeharto tidak pernah memerintahkan penyerbuan (hlm.67).
Uniknya, dalam kondisi marah atau tidak suka pun, ”The Smiling General” ini menggunakan bahasa high context pula. Semisal, ketika ada menteri yang laporan atau dipanggil diruang kerja presiden telah dipersilahkan meminum minuman yang tersedia, berarti diperintahkan segera untuk pamit. Meski begitu, Soeharto juga pernah menggunakan bahasa low context.
Berbeda lagi ketika Presiden BJ. Habibie marah. Dalam bab III, ia tampak menggunakan bahasa low context. Ketika marah, ia sering melototkan mata kepada yang dimarahi, raut muka memerah dan suara keras. Ia juga dikenal sebagai sosok yang temperamental. Meski cerdas, ia cepat emosi dan cepat marah, terlebih ketika ditantang, dikritik, dan didebat. ”Anehnya, tidak ada satupun menteri yang takut”, menurut informan Hendropriyono (hlm.159).
Dalam bab IV, ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) marah, kadang menggebrak meja dan atau mengancam. Meski begitu, Gus Dur tidak lepas dari sifat gampang tidur dan humorisnya. Sering dalam setiap sidang kabinet yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB, Gus Dur melakukan ritual tidur. Ketika salah atau mendapat konfirmasi dari orang yang merasa dirugian, Gus Dur sering menanggapinya dengan santai. ”Oh, begitu, ya? Ya, Sudah. Enggak usah dipikirin…!”, jawabnya (hlm.199).
Sedangkan Megawati, dalam bab V, setiap marah suka menghardik korbannya. Semisal, ketika Megawati sedang menghadiri acara dengan sejumlah kerabatnya di restoran sebuah hotel mewah di Singapura. Dalam acara itu, Roy BB. Janis dihardik habis-habisan di depan umum akibat kedatangannya tidak diundang (hlm.283). Selain itu, ia juga terkenal pendendam. SBY merupakan salah satu contoh yang menjadi korban sifat pendendam itu. Dalam debat calon presiden 2004, misalnya, gara-gara menaruh dendam dengan SBY, Megawati mengajukan syarat kepada penyelenggara acara untuk menghapus acara jabat tangan antar calon. Dalam pelantikan Presiden SBY pun, Megawati tidak mau menghadirinya.
Dalam berkomunikasi, menurut penulis, Megawati tidak bisa efektif. Ia lebih suka diam atau menebar senyum dari pada berbicara. Selama berpidato, suaranya tampak datar, nyaris tidak ada body language sama sekali. Ia membaca kata per kata secara kaku, seolah takut sekali pandangannya lepas dari teks pidato di depannya (hlm.247). Ironisnya, dalam setiap pembicaraan dengan orang-orang dekatnya lebih banyak membicarakan shopping dari pada soal-soal yang berkaitan dengan bangsa dan negara. Dalam menghadapi kritik, ia sering tidak tahan, alergi kritik (hlm.265).
Meski tidak jarang menuai kritik, dalam bab VI, SBY tampak merasa gerah pula. Bahkan, SBY sering balas mengkritik bagi orang atau pihak yang berani mengkritiknya, termasuk kebijakan pemerintah. Namun, dalam setiap pembicaraannya, SBY tergolong cukup hati-hati. Seolah-olah setiap kata yang keluar dari bibirnya diartikulasikan secara cermat. Dalam perspektif komunikasi, SBY tergolong dalam lower high context. Ia gemar menggunakan analogi dalam menggambarkan suatu masalah dan tidak bicara secara to the point. Hanya hakikat suatu permasalahanlah yang sering disampaikannya. Dalam berbagai kesempatan, SBY seperti sengaja tidak mau memperlihatkan sikapnya yang tenang, tetapi membiarkan publik menebak-nebak sendiri.
Tidak sedikit informasi tentang komunikasi keenam presiden kita dalam buku ini. Selain unik, bikin tercengang, tertawa, dan kesal, buku ini memberikan berbagai wawasan terkait kepribadian beberapa presiden yang pada pemilu tahun ini hendak tampil sebagai calon presiden lagi. Namun, untuk mengetahui apakah dari sejumlah presiden itu tergolong –meminjam istilah Kurt Lewin- Authoritarian, Participative, atau Delegatif, pembaca dipersilahkan menyimpulkan sendiri.***

Korpri Harus Melayani Warga


BANDARLAMPUNG – Sekretariat Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Provinsi Lampung menjadwalkan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-41 Korpri di Lapangan Korpri, kompleks Pemprov Lampung, hari ini (29/11). Peringatan tersebut akan diisi dengan upacara. Bertindak sebagai inspektur yakni Wakil Gubernur Joko Umar Said.
Sekretaris Kopri Lampung Ersy Hertanti Lenny mengatakan, momentum peringatan HUT ini harus dimanfaatkan anggota Korpri untuk merubah mindset. ’’Yang paling penting, anggota Korpri sebagai seorang pegawai negeri sipil harus melayani warga bukan dilayani. Itu yang terpenting,’’ urainya kemarin (28/11).
Dalam kurun waktu belakangan untuk mendukung Korpri Lampung, Lenny menambahkan, sekretariat setempat terus berbenah. Sejumlah program digelontorkan. Di antaranya dari sisi pengembangan ekonomi berbasis koperasi. Yakni dengan menggandeng pihak swasta dalam membuka jenis usaha bersifat koperasi mandiri di lingkup sekretariat. ’’Ya, kita buka travel agen ticketing hingga fasilitasi chek in hotel di seluruh Indonesia,’’ katanya.
Untuk program yang lain, menurut dia, kini Sekretariat Korpri ikut berpartisipasi dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Korpri Nasional I yang digelar di Makasar, 22–28 November 2012, kemarin.
Meski tak berhasil meraih juara umum, Korpri Lampung mencatatkan diri sebagai anggota yang ikut mengirimkan peserta di seluruh tangkai perlombaan. ’’Sedangkan untuk memperingati HUT Korpri ini di Lampung kita juga sudah menggelar donor darah, jalan sehat, dan ziarah ke makam pahlawan,’’ tutur Lenny. Ia berharap agar ke depan anggota Korpri terus meningkatkan kualitasnya untuk menjawab tantangan zaman. Sehingga, tatanan reformasi birokrasi yang lebih baik dapat tercapai.

Sumber: Radar Online

Angie ke Nazar: Kalau Mau Hantam Anas Jangan Pakai Saya

Jakarta - Kesaksian yang memberatkan Angelina Sondakh terlontar dari mulut M Nazaruddin yang dihadirkan sebagai saksi. Angelina Sondakh keberatan dengan kesaksian rekannya di fraksi Demokrat DPR itu.

"Saudara saksi, saya jangan dijadikan sasaran antara Anda untuk menghantam Anas Urbaningrum," ujar Angie ketika diberi kesempatan memberi tanggapan. Hal itu disampaikannya usai kesaksian M Nazaruddin di Pengadilan Tipikor, Jalan HR Rasuna Said, Jaksel, Kamis (29/11/2012).

Angie menyampaikan kalimat itu dengan nada tinggi. Dalam tanggapannya, Putri Indonesia 2001 ini juga mempertanyakan mengenai alasan Nazar menudingnya telah menerima Rp 9 miliar terkait kasus wisma atlet.

"Jangan sampai kebencian kepada Anas dibebankan kepada saya," tegas Angie.

"Apakah benar Anda mendengar pengakuan saya mengenai Rp 9 miliar seperti itu di TPF?" tanya Angie.

"Benar, terdakwa kan bilang seperti itu tapi sebagian uang itu dikasihkan ke Mirwan Amir," jawab Nazar.

M Nazaruddin menyatakan Angelina Sondakh pernah menerima uang Rp 9 miliar terkait kasus wisma atlet. Kesaksian yang menyudutkan Angie sebagai terdakwa.

"Saya pernah mendengar terdakwa menjelaskan bahwa dia menerima Rp 9 miliar dari Paul Nelwan terkait wisma atlet," ujar Nazar dalam kesaksiannya.

Nazaruddin mengungkapkan kalau Angie mengaku menerima uang wisma atlet sebesar Rp 9 miliar saat pertemuan dengan Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk oleh Partai Demokrat. Menurut Nazaruddin, saat itu Angelina mengatakan bahwa uang tersebut langsung diberikannya kepada Mirwan Amir.

Selain itu, kata Nazaruddin, uang juga dinikmati Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mantan Ketua Fraksi Partai Demokrat Jafar Hafsah sebesar Rp 1 miliar dan mantan Ketua Komisi X DPR, Mahyuddin.

“Ibu Angie jelaskan ‘Uang itu langsung saya serahkan ke Mirwan’ terus Mirwan bilang ‘Iya ngie, tapi uangnya enggak semua saya terima, ada Jafar Rp 1 miliar, terus diterima ketua umum, dikasih ke Olly',” kata
Nazaruddin.

Sumber: DetikNews