Aksi Damai Peduli Konflik Lamsel

HMI Komsospol Unila dan gabungan komunitas se Bandar Lampung di Tugu Adipura Bandar Lampung.

Basic Training HMI Komsospol Unila

Suasana Basic Training di gedung KNPI Lampung.

Sekretariat HMI Komsospol Unila

Jl. Danau Tondano No 35 Kedaton Bandar Lampung.

Alumni HMI Komsospol Unila

Pengkaderan dari masa ke masa untuk umat dan bangsa.

Senior dan Alumni HMI Komsospol Unila

Semangat membimbing dan berbagi. Yakin Usaha Sampai !

Prolog. HMI Komisariat Sosial Politik Universitas Lampung.

Menghadirkan sebuah Blog merupakan langkah HMI go Public. Dimana semangat berorganisasi dan menyampaikan kepada khalayak tentang aktifitas dan perjuangan selama ber-HMI dipandang sangat perlu, dengan harapan masyarakat dapat mengetahui eksistensi HMI. Namun diluar dari pada itu, menghadirkan blog semacam ini merupakan wahana belajar untuk kader agar dapat berkreatifitas dalam mengelola sebuah media, sebagai bentuk sinergitas HMI dengan zaman. Kepada setiap pembaca, dengan segala hormat kami sangat menyadari akan kekurangan maupun kelebihan kami kami dalam menyajikan blog ini. Untuk itu kami sangat mengaharapkan sekali kritik dan saran, sebagai upaya untuk mencapai kesempurnaan, meski untuk mencapai titik kesempurnaan sangatlah sulit dan subyektif sifatnya. Akhirnya, semoga Blog Komisariat Sosial dan Politik Unila ini dapat bermanfaat dan menjadi stimulus pembaca dalam berkreatifitas dan menjadi warisan turun menurun untuk dikelola oleh generasi selanjutnya.

Yakin Usaha Sampai

Saturday, November 24, 2012

PROYEK PEMBANGUNAN FLY OVER HABISKAN DANA 400 MILIAR


BANDARLAMPUNG – Demi terwujudnya jalan layang dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mengurai kemacetan,  Pemerintah Kota Bandarlampung berjanji terus aktif jemput bola dan melakukan lobi ke Kementerian PU.
    Upaya itu dimaksudkan agar rencana pembangunan jalan layang yang diproyeksi menelan anggaran cukup besar, yakni sekitar Rp250 miliar hingga Rp400 miliar, ini dapat segera dilaksanakan dan terealisasi.
    Wali Kota Bandarlampung Herman H.N. mengatakan, rencana itu memang sepenuhnya diberikan kepada Kementerian PU. Sebab telah menjadi cita-citanya untuk dapat membangun jalan itu agar kemacetan di kota ini dapat dikurangi. ’’Ya mudah-mudahan selama saya memimpin ini bisa terwujud. Atau paling tidak ya programnya sudah ada saat saya menjabat ini,” katanya.
    Oleh sebab itu secara bertahap diharapkan pemerintah pusat dapat melakukan pembangunan. ’’Ya kalau mereka tidak mau membangun, nanti bertahap pemerintah kota saja, atau pemerintah provinsi yang akan membangun,” katanya.
    Sementara itu, masyarakat kota ini cukup antusias dengan rencana adanya jalan layang mulai Jl. Teuku Umar hingga Z.A. Pagar Alam ini. Seperti diungkapkan Astuti (23), warga Rajabasa. Menurutnya dengan adanya jalan itu dapat mengurai kemacetan. Sebab saat ini kemacetan yang ada di Bandarlampung makin parah, terutama ruas Jalan Z.A. Pagar Alam hingga Teuku Umar selalu padat merayap.
    ’’Banyak tempat pendidikan, bahkan tempat usaha, mulai restoran hingga supermarket. Sepanjang hari pasti merayap. Lengang kalau malam hari saja, di atas pukul sepuluh malam. Dan ini benar-benar membuat kesal,” katanya.
    Senada diungkapkan Arlan (26), warga Kedaton. Pria yang bekerja di daerah Telukbetung Utara itu harus berkutat dengan ramainya kendaraan di kota ini. Terlebih di saat jam-jam sibuk, kemacetan semakin parah.
    ’’Kalau ada jalan layang, bisa seperti jalan tol dalam kota. Ini bentuk inovasi pemerintah dan membuktikan bahwa Bandarlampung ini kota besar. Di kotanya ada jalan layang untuk urai kemacetan kendaraan yang makin banyak ini,” katanya.
    Diketahui, pemkot mengusulkan kepada Kementerian PU untuk membangun jalan layang. Untuk jalan layang yang diajukan ini melintasi jalan protokol. Yaitu mulai depan kantor PTPN VII Jalan Teuku Umar hingga di Tugu Raden Intan Jalan Z.A. Pagar Alam perbatasan Rajabasa, Bandarlampung-Hajimena, Lampung Selatan.
    Aulia Aziz selaku PPK V pada perwakilan Kementerian PU Provinsi Lampung mengatakan, dari pengajuan pembangunan jembatan layang oleh wali kota Bandarlampung ini, pihaknya segera memproses ajuan tersebut ke Kementerian PU.
    ’’Secepatnya kita proses. Dan mengenai anggarannya akan dilihat dari kemampuan APBN, apakah bisa dibangun tahun 2013 atau 2014. Tetapi akan dilihat lagi apakah akan dibangun fly over atau jalan layang,” paparnya.
    Dia melanjutkan, pihaknya saat ini akan membuat perencanaan terlebih dahulu. Selain itu juga akan dilihat lebar dan panjang jalannya. ’’Paling lama 2014 sudah dibangun. Tetapi tetap diupayakan tahun 2013 nanti. Semua tergantung anggaran dari APBN,” paparnya. (red/p4/c1/adi)

Sumber: Radar Lampung

RIO FERDINAND DUKUNG TIMNAS INDONESIA PADA AJANG AFF SUZUKI CUP 2012




Jakarta - Sore ini Indonesia akan memulai kiprahnya di AFF Suzuki Cup 2012 melawan Laos. Pemain Inggris Rio Ferdinand sampai memberi perhatian khusus untuk skuat "Garuda". Anda?

Via akun twitter-nya, @rioferdy5 , bek asal klub Manchester United itu bahkan langsung memberi prediksi bahwa Irfan Bachdim dkk. bakal meraih kemenangan dengan skor telak.
...

"Indonesia vs Laos I'm reading...worth watching?? 5-0 Indonesia I think! I was in Indonesia, what a nice country + the food...wow!" demikian kicaunya.

Dua tahun lalu, saat Piala AFF digelar di Indonesia (dan Vietnam), sejumlah pesepakbola top luar negeri sesekali berkomentar melalui twitter-nya, seperti Cesc Fabregas, Ryan Babel, dan lain-lain. Dan Ferdinand termasuk yang paling sering. Kala itu dia bahkan nyaris nge-tweet di setiap pertandingan Indonesia.

Ketika Indonesia kalah di final dari Malaysia, ia tak lupa memberi komentar pula, tapi kali itu khusus untuk Malaysia.

"Selamat untuk Malaysia yang mengalahkan Indonesia di final Suzuki Cup. 18 bulan yang lalu saya bermain melawan tim Malaysia u23. Mereka tim yang cukup baik," tulisnya pada 29 Desember 2010.

Kickoff Indonesia-Laos pukul 6 petang waktu setempat, atau jam 17.00 WIB. Pertandingan digelar di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Setelah laga tersebut, tuan rumah Malaysia bertempur melawan Singapura.

detik.com

Friday, November 23, 2012

ISRAEL HANYA 8 HARI SERANG GAZA, TANDA AWAL KEJATUHAN REZIM ZIONIS

Teheran, - Pemerintah Israel dan Hamas setuju untuk gencatan senjata setelah Israel melancarkan serangan intens ke Gaza selama 8 hari. Seorang anggota senior parlemen Iran mencetuskan, berkurangnya durasi serangan Israel terhadap para pejuang Palestina itu menandai awal kejatuhan rezim Zionis.

Menurut Kepala Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, Israel telah kalah dalam melawan para pejuang Palestina. Dikatakannya, kekalahan rezim Israel dalam perang selama 8 hari di Gaza tersebut merupakan kekalahan keempat bagi Israel dalam menghadapi para pejuang Palestina.

"Rezim Zionis perebut dikalahkan Hizbullah pertama kali pada tahun 2000 saat pembebasan tanah-tanah yang diduduki di Libanon selatan. Kedua kalinya, Israel dikalahkan dalam perang 33 hari dengan Hizbullah (tahun 2006), dan yang ketiga dalam perang 22 hari di Gaza (tahun 2008)," cetus Boroujerdi seperti dilansir Press TV, Sabtu (24/11/2012).

Menurut anggota parlemen Iran itu, kemenangan gerakan Hamas dalam perang dengan rezim Israel merupakan kemenangan semua gerakan perlawanan di dunia muslim.

Pada 14 November lalu, Israel melancarkan serangan udara dan laut terhadap wilayah Jalur Gaza. Selama 8 hari Israel terus menggempur wilayah Gaza hingga menewaskan lebih dari 160 warga Palestina. Sekitar 1.200 orang lainnya luka-luka.

Di lain pihak, Hamas terus melancarkan serangan-serangan roket dan rudal ke wilayah Israel. Akibatnya, lima warga Israel tewas.

Akhirnya pada Rabu, 21 November malam waktu setempat, perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas diumumkan di Kairo, Mesir. Sesuai kesepakatan gencatan senjata itu, Israel harus "menghentikan semua kekejaman di darat, laut dan udara termasuk serbuan dan menargetkan individu-individu".

Faksi-faksi Palestina juga harus menghentikan "serangan-serangan roket dan semua serangan di sepanjang perbatasan".

Dalam perjanjian itu juga disebutkan, Israel akan mengizinkan masuknya barang-barang ke Gaza, yang telah diblokade Israel sejak tahun 2007.

Sum: Detik.com

LAOS JADIKAN BAROMETER TIMNAS DI AFF 2012

Pergulatan Kompetisi sepak bola tertinggi di Asia Tenggara, akan dimulai pada hari ini (24/November). Indonesia yang tergabung d Group B bersama dengan tuan rumah Malaysia, Singapura dan Laos. Melihat dari fakta beberapa uji coba, keberangkatan Timnas, diragukan akan mencapai hasil yang memuaskan. Apalagi ditambah konflik dualisme federasi sepakboa tanah air (PSSI) urung menemukan kata 'islah'. Secara kesiapan tentu saja Timnas Indonesia kontestan paling kurang siap dibandngkan kontestan lainnya. 
Melihat potensi yang ada, dari group B, relatif Laos lah tim yang relatif lebih mudah untuk mencuri poin. Sementara Malaysia berlabel tuan rumah sekaligus juara bertahan, tentu saja tidak akan memberi poin begitu saja kepada timnas, terakhir Singapura adalah tim yang paling meyakinkan jika menilik dari hasil uji coba sebelum kompetisi ini dimulai.
Indonesia baru akan bermain besok (Minggu/25) menghadapi Laos yang akan dihelat di Bukit Jalil National Stadium. Tempat dimana dua tahun lalu cita-cita rakyat Indonesia untuk melihat pemain membawa trofi dua tahunan ketanah air sirna dengan kekalahan 3-1 dari Malaysia. Hanya, timnas mesti terus berharap sekaligus realistis jika menilik performa dan beberapa konflik yang terjadi ditubuh Timnas. Pertandingan melawan Laos adalah uji awal kesiapan Timnas menghadapi Kompetisi AFF 2012 ini. Sebelum selanjutnya menghadapi Singapura (Rabu/28 Nov), dan penantang terberat sekaligus tuan rumah Malaysia (Sabtu/1 Des).
Bravo Indonesia..
Oleh: Dayu Rinaldi

SOLAT GHAIB UNTUK KORBAN PALESTINA

(Bandar Lampung/ 23 Nov 2012)
HMI Komisariat Sosial Politik (Komsospol) Unila, melaksanakan sholat ghaib bersama di lampu merah unila. Aksi gabungan ini diikuti oleh beberapa elemen organisasi mahasiswa seperti KAMMI Unila, IMM, dan PMII. Sebelum melakukan Sholat Ghaib, maksa aksi terlebih dahulu melakukan orasi, menyuarakan aspirasi duka cita atas penderitaan yang dialami masyarakatt muslim di Palestina.
Dalam orasinya, Ketua Umum HMI Komsospol Unila, Ahmad Erlangga Ferdianto, mengecam tindakan yang dilakukan oleh Israel. " Penyerangan yang mengakibatkan terbunuhnya 160 rakyat Palestina dijalur gaza ,adalah jelas pelanggaran Hak Asasi Manusia". Disamping itu, mereka menyesalkan tidak adanya sikap yang jelas dari Presiden SBY, terhadap tindakan Israel tersebut. Mengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang dihuni oleh penduduk muslim terbesar didunia.
Aksi yang berjalan sekitar dua jam tersebut berakhir setelah peserta aksi melakukan sholat ghaib yang dipimpin oleh Dhani, Ketua Umum KAMMI Unila.

(Oleh: Adrian Soedrajat)

HMJ Ilmu Pemerintahan Gelar Diskusi Konflik Horizontal

(Bandar Lampung/23 November 2012)
" Mahasiswa kini, alami degradasi tujuan", ujar Ahmad Erlangga Ferdianto selaku fasilitator dalam acara diskusi, yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Pemerintahan Fisip Unila. Kegiatan yang bertempat di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Fisip Unila tersebut, mengangkat tema " Peran Pemuda Menyikapi Konflik Horizontal di Lampung". "Diskusi ini digagas dengan maksud mengajak teman-teman mahasiswa, terutama jurusan Pemerintaha, agar peka terhadap gejolak sosial yang terjadi dimasyarakat sekitar", ujar Iin Tajudin selaku Ketua Umum HMJ Ilmu Pemerintahan.
Dalam pemaparannya, Angga menyampaikan tentang peran vital mahasiswa sebagai aktor intelektual. Oleh sebab itu, mahasiswa kini mesti mengembalikan budaya intelektual, seperti membaca, diskusi, dan menulis. Selain itu, Mahasiswa juga harus memiliki sense of crisis, sehingga terlibat aktif, dalam persoalan kemasyarakatan.

Tuesday, November 20, 2012

Menengadah Asa, Menggadai Usia

Sejumlah anak-anak pesisir pantai Teluk Betung tengah asyik bermain, sembari menunggu kapal pencari ikan berlabuh. Kehidupan seperti ini bukan hal baru bagi mereka, anak-anak dikawasan Gudang Lelang Teluk Betung Selatan ini sejak kecil memang telah dikenalkan oleh orang tua mereka tentang kehidupan dilaut. Dimana setiap pagi menjelang siang mereka menunggu kapal pencari ikan menyandar, tugas mereka adalah mencuci kapal. Setiap satu kapal yang dicuci mereka berhak mendapatkan imbalan  Rp.2000-Rp.3000 /anak dari pemilik kapal.
Disaat anak-anak lain seusianya asyik bermain dengan teman-teman lain di bangku sekolah, mereka dipaksa oleh keadaan untuk berjuang mencari uang membantu orang tua. Hal yang tidak wajar dilakukan anak seusia 5-10 tahun, namun mereka buktikan ternyata mereka mampu. Bukan mereka tidak memiliki mimpi, bahkan mimpi mereka sangat lah tinggi. Saat ditanya salah satu anak menjawab bahwa ia ingin menjadi Polisi, Ardi (10 Tahun).
Hanya, karena keterbatasan orang tua mereka, akhirnya mereka urungkan cita-cita yang menjulang kelangit tersebut. Bahkan saat kami tinjau kelapangan langsung, dari mimik wajah mereka, kami melihat bermimpi pun mereka takut. Hanya dengan cara bekerja dilaut inilah sedikit demi sedikit mereka mampu menabung, yang entah sampai kapan mereka berhenti dari pekerjaan tersebut dan mendapatkan kehidupan yang layak untuk seusia mereka.
.

Monday, November 19, 2012

AGAMA DAN KONFLIK MASYARAKAT MODERN


Oleh    : Ramadhan Nawawi
Sekretaris Umum HMI Komsospol Unila

Manusia sebagai makhluk Tuhan merupakan makhluk yang mampu berdiri diatas kemerdekaan pribadi sebagai individu (homohomonelupus), susila dan mahkluk sosial (homohomonesosius) yang selalu hidup berkelompok, selaras, seimbang, dan saling berhubungan satu sama lain atau berkomunikasi, dan saling mempengaruhi. Hidupnya selalu bergabung dalam satu ruang sosial atau medan sosial. Maka tingkah lakunya itu selalu menjurus pada kader-referensi kemanusiaan, mengarah pada aku-lain; yaitu ada dalam kaitan relasi antar manusia.
Setiap individu memang merupakan satu subjek atau substansi bebas yang berdiri sendiri, dan diperuntukkan diri sendiri. Tetapi selamanya dia tidak pernah bisa lahir terlempar sendiri di dunia, dan tidak bisa tegak berdiri sendiri. Sebab selama-lamanya dia adalah bagian dari kelompoknya, dan menjadi “onderdil” dari satu masyarakat. Bahkan dia menjadi bagian dari beberapa kelompok sekaligus. Dia hidup ditengah lingkungan, di tengah kaum, suku dan bangsanya. Karena itu dia lebih banyak ditentukan secara sosial oleh lingkunganya. Jadi, ada proses determinasi sosial .  Yaitu dipengaruhi oleh orang lain dan oleh lingkungannya, dan juga ia mempengaruhi orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Manusia yang membentuk sebuah komunitas sosial  atau kesatuan (unity), bergerak secara bersamaan, dan saling berinteraksi. Dimana ada individu-individu yang berinteraksi sehingga membentuk sebuah struktur sosial yaitu masyarakat. masyarakat sendiri berasal dari bahasa arab ‘musyarak’. Labih abstrak lagi masyarakat menghubung-hubungkan kedalam entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah interdependen (saling ketergantungan satu sama lain). Umumnya masyarakat ditujukan kepada komunitas yang hidup berkelompok dan berdampingan secara teratur.  Kemudian membuat norma-norma tau aturan yang disepakati bersama. Baik norma saling tolong menolong, kejujuran, dan komitmen bersama.
Makhluk yang membentuk komunitas masyarakat ini, merupakan cikal bakal atau agen dalam perubahan. Melalui paradigma humanisme kelompok akan mendorong kepada perubahan sistem sosial berdasarkan kritisasi-kritisasi masyarakat terhadap dinamika sosial. Karena perubahan sosial merupakan warna dalam kehidupan berkelompok yang timbul akibat banyak faktor, baik intenal maupun ekstenal. Perubahan sosial pun bukan hanya mendorong terciptanya sebuah perubahan yang bergerak maju, melainkan ada juga perubahan yang bergerak mundur.
Perkembangan zaman mengarah kepada realitas hidup dalam masyarakat modern. Bermacam-macam kelompok sosial, organisasi, badan pemerintah, usaha-swasta, perkumpulan, gerakan-gerakan sosial, partai politik, lembaga kemasyarakatan, usaha kewiraswastaan dan seterusnya, masing-masing mempunyai interest, tujuan, dan daerah operasi sendiri-sendiri. Maka persaingan, kompetisi, dan konflik merupakan realitas nyata yang banyak terjadi di tengah masyarakat modern. Hal ini akan menimbulkan pergeseran sistem sosial yang memaksa masyarakat mengubah tatanan sosial lama dengan tatanan sosial yang diharapkan masyarakat. Baik itu perubahan sosial yang bergerak maju maupun bergerak mundur.
Kondisi sosial hari ini mengungkapkan sebuah fakta yang tak seorang pun mampu menampiknya, yaitu terciptanya dunia ketiga. Dimana didalam dunia ketiga merupakan sebuah dunia yang didalamnya terdiri dari struktur-struktur yang dibangun melalui kecanggihan teknologi. memasuki pertengahan abad ke-21 dunia bagaikan sebuah kampung yang kecil. Nuansa persaingan sangat terasa, sehingga menggiring manusia untuk saling berkompetisi satu sama lain. Tidak ada lagi kehidupan secara bersama, selaras dan seimbang didalam sistem masyarakat. Yang ada hanya bagaimana manusia satu dengan yang lainnya saling bersaing untuk memenui hasrat masing-masing individu. Era modernisme ini diasosiasikan oleh masyarakat dengan munculnya internet pada tahun 1990-an. Periode ini juga ditandai adanya kekacauan dibelahan dunia lain (Francis Fukuyama:2000).
Modernisasi ditandai juga dengan adanya penguasa pasar (capital), setiap pembangunan telah menghasilkan efek yang sama dimasyarakat. Setiap orang terjerat dalam keterggantungan suatu jaringan baru terhadap komoditas yang mengalir keluar dan kedalam bentuk mesin-mesin, pabrik-pabrik, klinik-klinik, studioTv atau lembaga pemikir yang sama. Nilai-nilai kebudayaan yang dibangun diatas fondasi kebersamaan seakan terasa hambar dan hanya menjadi sisa-sisa tradisional. Kejahatan dan kekacauan sosial meningkat, yang lebih parah konflik tersebut justru didominasi oleh golongan muda, dengan klasifikasi umur antara 15-25 tahun. Ivan Illich (Menggugat Kaum Kapitalis: 1978).
Dinamika perubahan sosial modernisme atau dunia ketiga, manusia hanya dinilai sebatas sejauh mana manusia mampu menghasilkan sesuatu. Fenomena ini akhirnya menggugurkan norma-norma yang disepakati oleh masyarakat pada masa lalu yang dianggap baik. Karena mengandung semangat kebersamaan, kejujuran, pemenuhan tugas dan komitmen bersama. Selain itu, era modernisasi memunculkan sebuah kemerosotan nilai-nilai yang dapat kita lihat didalam keseharian hidup masyarakat yang lebih suka menghakimi sendiri maling atau copet yang tertangkap dengan cara membakar diri mereka, melakukan amuk massa dalam menyelesaikan persoalan antar kelompok, atau melakukan aksi teror terhadap suatu kelompok akibat kecewa terhadap kelompok tertentu. Demikian juga, kasus-kasus yang melibatkan pihak birokrasi yang tidak pernah bisa diselesaikan secara jelas dan accountable membuat masyarakat semakin tidak percaya kepada lembaga-lembaga negara.
Perkembangan dunia modern yang sarat dengan ilmu dan teknologi dan dengan cara berpikir yang sekuler dan kapital – liberalisme, ternyata telah membawa petaka berupa kehancuran planet bumi sekaligus merupakan ancaman terhadap kehidupan dan peradaban manusia. Karena itu, di mana-mana dewasa ini semangat menyelesaikan segala persoalan manusia dengan mengikutsertakan pertimbangan spiritual sudah mulai bergema lagi. Faktor agama yang sucilah lama tidur lelap karena dipandang hanya sebagai candu yang meninabobokan masyarakat, diundang untuk turun tangan kembali. Jika pada masa-masa lalu ternyata agama dapat bersikap aktif dan komunikatif, dengan adaptasi-adaptasi tertentu, diharapkan tentunya agama tersebut dapat memainkan perannya kembali.
Agama semestinya tidak lagi bertarung pada idiom kebenaran subyektif, yang hanya dapat memperkeruh suasana. Masyarakat menantikan sentuhan pencerahan dimana agama menjadi jalan keluar saat masyarakat telah hilang kepercayannya kepada pemerintah dan aktor-aktor yang mereka anggap dapat menyelesaikan persoalan kebangsaan dan keumatan. Peperangan antar kelompok aliran, suku, ataupu ras, perdebatan agama mana yang benar sudah saatnya dihentikan. Ada baiknya energi terebut dialihkan untuk menyelesaikan keumatan.
Kehadiran agama sudah seharusnya membahas tentang bagaimana mengkonstruksi pemikiran umat. Bukan dengan maksud untuk memprofokasi. Perbedaan antara agama satu dan lainnya itu tidak prinsip, namun bagaimana kemudian mendorong agama-agama yang ada di Indonesia untuk bersama melakukan pembaharuan pemikiran masyarakat ditengah gencarnya modernisasi yang menyeret umat saling tidak mempercayai satu dengan yang lainnya.

Permasalahan rakyat adalah bagian dari permasalahan agama, mengingat bahwa Indonesia adalah Negara yang dihuni oleh banyaknya perbedaan agama. Jadi pada pada prinsipnya adanya ideologi khusus masing-masing agama tidaklah mutlak, karena Agama bukanlah ideolog namun menjadikan Agama sebagai sumber Ideologi masih dibenarkan. Untuk itu tingkat kebutuhannya pun bisa perlu bisa tidak dan bahkan bisa naïf. Yang pokok adalah Agama merupakan nafas pribadi. Kumpulan pribadi-pribadi yang menganut suatu agama sebagai kelompok tersebutlah yang membutuhkan ideologi yang bisa khusus atau meluas diluar batas anutan agama.

HMI KOMSOSPOL UNILA GELAR AKSI DAMAI LAM-SEL




(Bandar Lampung/ 1 November 2012)
HMI Komsospol Unila gelar aksi seruan damai atas konflik yang terjadi di Lampung Selatan. Aksi yang bertempat di tugu adhipura Bandar Lampung tersebut diikuti oleh sekitar 50 kader aktif Komsospol Unila. Dalam orasinya, koorlap (Yoga Orlando) menyerukan perdamaian kepada masyarakat Bali Nuraga dan Masyarakat Lampung yang bertempat di Way Panji. “Konflik tersebut sangat disayangkan, mengingat Lampung merupakan daerah yang sudah sejak dahulu dihuni oleh bermacam suku dan etnie”, ujar Yoga.
Aksi yang bertepatan dengan hari sumpah pemuda tersebut, diikuti pula oleh sebagian pemuda Lampung yang tergabung kedalam Komunitas Pemuda Peduli Lampung. Dalam aksi tersebut mereka secara bersama-sama mengikrarkan Sumpah Pemuda, sebagai bentuk Persatuan dan Kesatuan Pemuda Indonesia.
Menurut Ahmad Erlangga Ferdianto, selaku ketua umum HMI Komsospol Unila, aksi ini digelar sebagai implementasi dari mission HMI. Dimana sebagai mahasiswa dan Pemuda, khusunya kader HMI, semestinya peka terhadap urusan kemasyarakatan dan keumatan. Sebagai agen perubahan, kita mesti mengambil posisi yang strategis dalam menyelesaikan persoalan masyarakat dan umat.


Sunday, November 18, 2012

TRANSFIGURASI HMI DI TENGAH POSTMODERNISME (Refleksi dan Proyeksi Gerakan HMI Menyambut Milad Ke-64 Tahun)


Oleh :
MOH.RIZKY GODJALI
Ketua Umum HMI Komsospol Unila


Lafran Pane sang pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mungkin akan meratap tangis di alam yang berbeda ketika melihat organisasi yang menginjak 64 tahun ini tak kunjung beranjak dari keterpurukannya terbuai oleh kenikmatan kekuasaan. di Kampus Sekolah Tinggi Islam (sekarang UII Yogyakarta), 14 Rabiulawal 1366 H yang bertepatan dengan 5 Februari 1947 HMI berdiri atas keterpanggilan sekelumit mahasiswa yang tertindas oleh tekanan moral dan pemikiran kolonial pada waktu itu. Kini lebih dari setengah abad, HMI masih tegap berdiri menyajikan berbagai cerita yang bersifat konstruksif bagi negeri ini di satu sisi. Namun di sisi lain ia meninggalkan dampak destruktif bagi perkembangan gerakan kemahasiswaan yang selanjutkan akan menyentuh gerakan sosial secara general.

Di usianya yang  jauh melampaui kematangan suatu organisasi pada umumnya, HMI telah melewati beberapa fase yakni fase perjuangan fisik (1947-1949), fase pertumbuhan dan konsolidasi bangsa, fase trasnsisi orde lama ke orde baru, fase pembangunan dan modernisasi bangsa, serta fase pasca orde baru. Setiap fase yang menyiratkan suatu bentuk ujian menyebabkan  HMI semakin kuat bertahan dan adaptif. Pascareformasi saat ini HMI dihadapkan pada kompleksitas masalah yang berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Era persaingan bebas dan perkembangan teknologi informasi mau tidak mau telah memaksa sejumlah gerakan organisasi kemahasiswaan termasuk HMI untuk segera berbenah diri. Reformulasi gerakan mutlak diperlukan dalam rangka menyambut berubahnya konstelasi global yang berimplikasi pada kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat ini.

Ironisnya kini disaat organisasi lain mulai sadar dan bersegera diri meninggalkan usangnya tawaran gerakan perubahan sosial, HMI justru berada di titik nadir kenyaman melihat guratan sejarah keberhasilan para pendahulunya. Kenyamanan inilah yang membuat HMI terkukung oleh pemikiran pragmatis politis dan cenderung bergantung kepada kemapanan sang leluhur (senior) tanpa kemandirian. Jika terus dibiarkan kondisi seperti ini maka hanya ada dua pilihan atas keberlangsungan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia ini. Tetap bertahan dengan buaian rayuan kedudukan dan sejumlah materi di luar simetri gerakan mahasiswa, atau musnah karena tak kuat menahan arus perubahan zaman

Pilihan tersebut tak berlebihan jika kita merefleksikan apa yang telah diperbuat HMI dalam dasawarsa terakhir. Tak ada signifikasi perubahan yang bisa dilakukan untuk bangsa dan kehidupan masyarakat yang juga ditimpa krisis multidimensi. Alih-alih ingin berkarya untuk mewujudkan masyarakat sejahtera lewat gagasan perubahan. HMI malah sibuk dengan agenda ceremony mereaksi sekedarnya wacara nasional dan kedaerah, sibuk menyelesaikan konflik perebutan kekuasaan internal, dan sibuk mengurus kadernya yang tak kunjung cerdas, kritis, islami, dan mandiri. Kemunduran HMI yang dirasa saat ini akibatnya belum mampunya memenuhinya kebutuhan dan kepentingan mahasiswa (student need & student interes ) abad modern.

HMI belum tersadarkan bahwa masalah yang menimpa dunia kemahasiswaan sekarang berbeda dengan 20-30 tahun kebelakang, dimana HMI menduduki capaian prestasi gerakan. HMI banyak diminati mahasiswa karena budaya intelektualnya yang terjaga dan mengakar bagi seluruh kader militannya. Kultur membaca, berdiskusi, lalu menelurkan pemikiran lewat tulisan menjadi menu wajib bagi HMI dalam menapaki fase demi fase perjalanan organisasi.  Tak heran jika HMI mampu mencetak kader umat karena memperjuangkan kepentingan masyarakat yang dikebiri penguasa, serta menjadi kader bangsa karena misinya setelah purna dari HMI tetap dijalankan untuk meneguhkan keutuhan NKRI dan mensiyarkan islam. Keberhasilan alumni HMI yang ada di setiap sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara di semua tingkatan hingga level yang tinggi adalah berkah dari sistem pengkaderan yang kuat di HMI yang menekankan kebebasan berfikir namun tetap bersendikan nilai universal islami. HMI HMI mampu membuat mahasiswa kala itu membutuhkan aktualisasi berorganisasi selain mengejar target akademik. HMI selalu menjadi garda terdepan mengusung berubahnya peradaban rakyat ke arah lebih baik tanpa intervensi pemangku kebijakan. Bahkan HMI menjadi satu-satunya elemen mahasiswa yang berani melawan kedigdayaan PKI yang mesra memeluk negara di tahun 1960-an.

Paham mengenai situasi zaman kekinian yang mengalami perubahan di semua lini, HMI harus menstop gerakan paradoks. Orde paling baru yang melingkupi kehidupan masyarakat saat ini adalah kemasan globalisasi, kapitaslistik, dan individualistik. Postmodernisme menjadi wacana kontemporer yang seakan timbul nyata di tengah masyarakat. Menurut Kevin O’Donnell Postmodernisme merupakan kritik terhadap arus modernism yang semakin menggusur humanisme dari manusia sendiri, melahirkan materialisme dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat. Ia (Posmodernisme) bereaksi terhadap inti pilsafat modernism. Sedangkan seorang tokoh pemikir radikal post modernism, Fucault mengatakan bahwa budaya itu dikonstruksi oleh subjeknya (manusia) yang bebas, tidak lagi oleh agama dan masyarakat. Intinya ialah kebebasan. Inilah semangat yang tampak akhir-akhir ini setelah modernisme. Dua aliran utamanya ialah dekonstruksionisme dan relativisme.

Semangat postmodernisme mencoba mendekonstruksi kembali konstruksi-konstruksi yang ada namun tanpa memberikan konstruksi yang baru sebagai alternatif, karena bagi kaum post modernisme segala sesuatu adalah relatif, atau di dunia ini tidak ada yang mutlak. Suatu konstruksi (baik konstruksi pemikiran) akan terus dipertanyakan tentang kebenarannya, dan bisa berubah-ubah setiap saat, karena mustahil menemukan kebenaran yang hakiki.

Gejala postmodernisme juga melanda hingar-bingarnya dunia kemahasiswaan. Degradasi moral dan intelektual mengisi ruang kosong kejumudan mahasiswa. Aktivitas di dunia maya, pergaluan bebas, hantaman pasar psikotropika, dan pergulatan struktur maupun suprastruktur politik menjadi tatangan berat yang harus dihadapi organisasi macam HMI. Sebab itu, HMI perlu merekonstruksi basis gerakannya agar kembali adaptif atas student need dan  student interest lewat kultur intelektual dan kritis berfikir.

Beberapa langkah strategis yang harus dilakukan HMI diantaranya adalah pertama, memperkuat fondasi gerakan. HMI masyur dengan sistem pengkaderan yang mampu berubah pola fikir, pola sikap, dan pola tindak kader menjadi berkarakter yang tadinya awam dan penuh keluguan. Basic gerakan HMI adalah di pengkaderan, maka sistem pembinaan kader wajib untuk diperbaiki dan disesuai dengan kebutuhan zaman.
Program kedua adalah HMI mulai mencanangkan format back to campus islamic. Ranah perjuangan HMI yang nyata ada di kampus. Maka HMI harus dapat menyemarakan dunia kampus dengan kegiatan yang bersifat menggali potensi diri mahasiswa.HMI seoptimal mungkin dapat menggas dan mengawal semangat demokrasi di kehidupan kampus. Kader HMI harus tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi karena keunggulan informasi menjadi modal di tengah persaingan kompetisi. Nilai islam yang menaungi gerakan HMI di kampus lebih mengedepankan nilai universal, yakni bahwa islam sebagai jalan lurus Rahmatan Lil’alamin bisa diterima oleh kondisi mahasiswa yang pluralis.

Langkah selanjutnya adalah merubah beberapa paradigma berfikir dan bertindak oleh HMI yakni paradigma tradisi lisan berubah menjadi tradisi tulisan. Tradisi konservatisme terhadap kepentingan senior berubah menjadi tradisi revolusioner positif. Tradisi bergantung pada pendanaan alumni berubah menjadi kemandirian organisasi. Paradigma dari sekedar reaktif atas wacana berubah menjadi proaktif menyikapi yang disertai solusi realistis.

Kemudian, langkah keempat adalah meningkatkan kinerja organisasi yang bingaki dalam disiplin etos kerja kader. Peningkatan kerja ini dibarengai oleh konsolidasi semua elemen pembangun HMI. Jika keseluruhan langkah tersebut bisa dijalankan, lambat laun peran, fungsi, dan status HMI  sesuaikhittah dapat dilaksanakan. HMI muncul sebagai pembaharu berkat ketajaman analisis dan respon yang tepat atas dentuman postmodernisme yang semakin kencang Citra HMI yang kian meluntur akibat ulah sebagain oknum kader dan alumninya bisa tergantikan oleh citra tunggal HMI yaitu citra yang baik. Hal terpenting adalah bagaimana HMI kembali menelurkan gagasan konstruktif bagi perubahan Indonesia kedepan. Tujuan mulia HMI mewujudkan masyarakat adil makmur yang dirihdai Allah swt melalui tanggungjawab kadernya sebagai insan akademis, pencipta, dan pengabdi bisa segera terealiasi karena HMI memiliki doktrin memperjuangkan kaum mustadha’fin